Selasa, 09 Oktober 2012

Tak mengapa,sebut saja aku anak-anak..

Dewasa itu apa sih...?
apa dewasa itu selalu menjadikan seseorang menjadi dingin,seperti gunung es di Antartika yg menjulang tinggi?
Apa dewasa itu selalu menjadikan bibir seseorang kaku seperti garis lurus yang tidak punya garis lengkung??
kalaupun di bengkokkan,hanya akan terlihat sudut-sudut tegas yang lagi-lagi kaku.
Apa dewasa itu selalu menjadikan seseorang seperti pilar-pilar besi transparan penopang langit?
yang ada tetapi tak ada..
Yang lebih egois dari anak kecil sekedar berbagi mainan.
Jika seperti itu,aku tidak suka dewasa,meski seharusnya dari mata-mata penghuni bumi yang melihat eksistensiku sudah selayaknya melekat padaku.
Biarkan saja aku tetap seperti ini, yang melihat dunia dari mata kanak-kanakku,
Yang melihat ujian Tuhan seperti monster-monster aneh yang terkadang lucu menjadi musuh ultraman dan harus di kalahkan,kalaupun di tengah pertempuran lampu di dadaku berkedip-kedip,itu hal yang wajar toh karena aku anak kecil yang mempunyai energi terbatas ^_^,dan selalunya akan ada energi tambahan dari Tuhan jika aku bertahan untuk beberapa waktu saja,untuk kemudian menjadi damai kembali,sebelum aku terbang ke angkasa dan bersambung ke babak ke 3..,
yah...,
sikap dewasa hanya ada dan dimulai dalam babak ke 2 ini memang,dalam segmen ke 2 pula..,
babak ke 1 aku suka ^_^ ,dimana aku masih memakai pakaian serba putih,tidak ada tinta hitam di dalam setting yang hangat dan lembut...
Babak ke 2 segmen pertama aku juga suka,karna aku masih memakai pakaian serba putih itu dan terlihat sangat bersih,tapi di akhir segmen ke 1 aku sedikit sedih..,
karna aku tidak menyadari,bahwa pelindung noda dari pakaian serba putih itu mulai menipis,yang akhirnya pelindung itu benar-benar hilang pada segmen ke 2-nya,disini aku sedih....
dan sedihku adalah kelanjutan dari akhir segmen 1 pada babak ke 2 lalu.
Hmm...babak di mana terselip kata "dewasa" ini nih yang sedang aku jalani ini,terkadang banyak ku temui gang-gang kecil kekhawatiran,yang mau tidak mau,sadar ataupun tidak sadar,aku berjalan melewati kerikil-kerikilnya.
Jika hujan turun,membasahi tanah-tanah dan menjadikannya becek,sedang aku tidak berhati-hati,maka kotorlah pakaianku terkena cipratan lumpur yang turut serta mengikuti langkahku...
yah..,aku tengah berada pada sebuah kembara perjalanan menuju "Sang pemberi pakaian" ini,
Hmmm... apa jadinya yah..,kalau nanti aku berhasil sampai (sudah pasti akan sampai sih) dalam masa yang tak terduga, pakaian pemberianNya ini kotor,sedangkan aku hanya punya satu..,
malulah nanti aku,mendapati diri kumuh hendak masuk ke dalam istanaNya.
Jika kotor,aku bisa saja mencucinya,tapi gampang tidak gampang sih...
Akan selalu ada label otomatis yg bisa Dia baca,benar atau tidaknya aku mencuci,
kalau aku sering mencucinya, kemudian ku kotori lagi,ku cuci lagi,ku kotori lagi,hanya akan membuatku semakin terlihat dungu dan itu tidaklah anggun..
Dia akan memberi pakaian yang baru nanti,hanya pada babak ke 3 kelak,
jika aku merawat yg sekarang dengan baik,aku yakin,,tidaklah akan seberat pakaian ini saat ku kenakan.
Dewasa...yah..segmen ini terkadang tidak kusukai..
Kalaupun harus ku lekatkan,,
aku tidaklah akan melekatkannya dengan sempurna..,
aku hanya akan menjadikan dewasa itu sebagai selubung pembungkus jiwa,tapi mataku tetap kanak-kanak.
Jadi aku tidak akan pernah mendapat stempel "dewasa"seutuhnya,karena memang aku tidaklah terlalu suka ^_^.








2 komentar:

Unknown mengatakan...

Dewasa adalah ketika kita memiliki sikap untuk bersikap...berpikir terarah dan mengerti tentang siapa diri kita dan siapa orang lain, bagaimana harus menempatkan diri kita pada setiap situasi.Bravo

labocha mengatakan...

wehehehehe :D

Posting Komentar